Mengenai Keberadaan Tuhan

Kalau gw ditanya mengenai kepercayaan, gw tteis. Berikut gw uraikan bukti-buktinya.

Kita sepakat kan akan adanya Tuhan (personal). Mana adalah lah yg masih gak percaya, buktinya jelas banget. Lihatlah alam semesta yang sangat besar ini, yang sangat canggih, sangat matematis, dengan konstanta-konstanta presisi. Masa tiba-tiba ada secara independen, kan? Pasti harus ada Tuhan (personal), yg berpikiran, yg berkehendak, yg ngurusin manusia, yg bisa marah, yg bisa senang, dan yg bisa cemburu, yang menciptakannya, kan?

Namun, kalau kita pikir-pikir, Tuhan (personal) itu juga luar biasa sekali. Luar biasa sangat cerdas, sangat besar, sangat indah, mengetahui segalanya, bisa melakukan segala hal. Masa itu semua yg sangat canggih—saya tekankan lagi, sangat canggih—tiba-tiba ada begitu saja? Maka sangat jelaslah pasti ada TTuhan, SSang PPencipta Tuhan. Kecuali untuk orang-orang kkafir, aateis (atau mungkin lebih tepat atteis) yang tidak menggunakan akalnya, yang buta mata hatinya. Yang tuli, yang tuli, yang tuli kesombongannya. Sehingga tiada melihat tanda kebesaran TTuhan, oh. Maka sesungguhnya mereka tiada lebih daripada hewan.

Oke, oke.. , hadeuh… 😹. Poinnya, ngapain nambahin satu langkah yg hasilnya sama aja, tapi dikasih karakteristik antroposentris? “Tapi definisi Tuhan memang sebagai sesuatu yg independen, yg tidak diciptakan.” Nanti gw bahas.

Secara umum gw agnostik. Menurut gw ateis tegas sama naifnya dengan teis. Karena tuhan sebagaimana gak ada bukti adanya, gak ada bukti ketiadaannya, alias tidak bisa difalsifikasi. Ini yg gw ingin orang2 utamakan, empirisme dulu.

Cuman, gw skeptis dengan konsep tuhan personal. Bukan karena hal antroposentris itu mustahil, tapi ya itu bias yg jelas aja, bukan cara berpikir yg bagus. Gw kasih perumpamaan yg diekstrimkan supaya teis2 ngerti: si Zaid percaya bahwa tuhan itu memiliki bentuk wajah yg persis dengan Zaid. Konyol banget kan? Bukan sekadar karena gak ada bukti, tapi mengapa spesifik dirinya sendiri? Cara berpikir yg sangat buruk aja.

Lalu kenapa alam semesta ada? Apa yg memicu Big Bang? Gw gak tau, dan gak juga lu. Mengapa gw sangat menekankan empirisme? Karena itu, menurut gw, cara terbaik pragmatis kita. Yg paling jelas aja yg bukan mengawang-awang. Menurut gw keyakinan realitas harus berbasis premis realitas. Namun, nonempiris bukan berarti gak menarik dieksplorasi. Beberapa lebih mungkin benar daripada yg lain. Setidaknya beberapa merupakan interpretasi yg lebih dekat dari fakta empiris. Ini tetap seru untuk diperdebatkan asal ditekankan ketidakempirisannya.

Untuk penyebab alam semesta, ada dua penjelasan berbeda: regresi tak hingga dan fondasionalisme. Dua2-nya sama2 sulit diuji secara empiris dan gak intuitif, tapi regresi tak hingga lebih gak intuitif, jadi gw lebih ke fondasionalisme. Harus ada penyebab yg tidak disebabkan, hal yg menjadi dasar paling dasar untuk semua hal lain di alam semesta, sebut saja agar mudah dimengerti: “tuhan”. Gw gak tahu seperti apa persisnya “tuhan” tersebut. Gak ada bukti empirisnya, hanya alternatif dari regresi tak hingga yg lebih absurd. Gw skeptis “tuhan” tersebut personal. Mungkin gak harus tunggal juga. Bisa jadi itu berbagai hal berbeda. Menurut gw ada dua jenis sih: matematika atau kebenaran formal, dan mungkin semacam hal fisik yg sangat primitif. Jadi mungkin matematika adalah salah satu “tuhan” yg kita ketahui. Tentang hal fisik primitifnya gw gak tahu, mungkin fluktuasi kuantum termasuk?

Itu aja sih filosofi gw. Secara umum agnostik. Mungkin ada spekulasi, tapi itu pun samar. Memang samar, dan gak ditambah asumsi berlebihan. Masalah gw dengan tuhan tradisional itu, dia samar juga (pokoknya penyebab sebab2 lain), tapi dikasih banyak asumsi2 spesifik antroposentris. Argumen paling sering teis itu bahwa alam semesta itu terlalu luar biasa maka butuh pencipta (personal). Tuhan (personal) tersebut juga sangat luar biasa, tapi ditanya penyebab keberadaannya dijawabnya bahwa keberadaan memang sifat inheren-Nya dan sebagainya. Lalu kenapa gak langsung pake logika tersebut ke alam (atau bagian darinya), alih2 nambah satu langkah?!

Itu yg ingin gw kasih kesadaran ke orang2, kepersonalan tuhan. Keknya kebanyakan kukuh teis karena gak sadar itu. Gw dulu teis juga, gak ngerti kok bisa ada ateis, masa alam gak ada penciptanya tiba2 ada? Harus ada unmover mover dong, dan saat itu gw secara bawah sadar selalu menyamakannya dengan tuhan personal. Suatu saat gw nyari tau kepercayaan Einstein. Dia percaya tuhan Spinoza dan menganggap konsep tuhan personal itu naif dan hanyalah hasil kelemahan manusia. Lalu gw pikir2 iya juga ya, kenapa gw ngasumsiin unmover mover personal? Ternyata banyak nonteis juga setuju dengan konsep necessary being/wajib l-wujud, cuman gak harus personal.